Minggu, 08 Maret 2015

Menuju Swasembada Daging Sapi: Benchmarking, Kendala dan Solusi Perbibitan

Membaca tulisan Dahlan Iskan tentang masalah perbibitan sapi di Indonesia dalam ‘Manufacturing Hope 67’ sangatlah menarik dan bersajikan fakta aktual. Tidaklah mengejutkan karena tulisan beliau ini merupakan kesimpulan hasil diskusi bersama ahli–ahli peternakan dari berbagai perguruan tinggi dan LIPI.

Begitu lemahnya sistem produksi sapi didalam negeri, terutama perbibitan sehingga dalam memproduksi seekor pedet yang berharga Rp. 5 juta, petani mengeluarkan biaya setara Rp. 9 juta. Rugi Rp. 4 juta dengan waktu produksi dua tahun pula! Tetapi kebanyakan petani tidak menghitung lelahnya mencari rumput, memelihara dan memandikan ternak kedalam ongkos pakan dan tenaga kerja.

Itulah sebagian fakta yang diungkapkan dalam tulisan tersebut. Itulah mungkin mengapa banyak petani, terutama golongan muda di desa–desa, lebih memilih mencicil motor dan beralih profesi menjadi tukang ojeg, menjadi kuli bangunan di perkotaan atau menjadi TKI diluar negeri. Terlenanya negeri ini dengan produk daging sapi impor membuat terbuai dan tidak bisa membangun sistem produksi sapi yang baik didalam negeri.

Puji syukur, zaman telah berubah. Informasi kian cepat dan terbuka membuat sebagian besar masyarakat petani, pemerintah dan akademisi paham akan perlunya perubahan, menuju sistem produksi sapi di dalam negeri yang baik dan mensejahterakan semua stake holders-nya.
Benchmarking

Di Australia, sistem produksi sapi dikelola sangat baik, petani dan industri saling berdampingan. Waktu kuliah S2 di Australia, saya mempunyai teman seorang pengemudi tractor di Universiy farm dengan gaji sekitar AUD$20/jam sekaligus menjadi petani di ladang pertanian dan penggembalaan sapi puluhan hektar miliknya.

Di lain kesempatan, saya pernah dititipi rumah dan farm sapi puluhan hektar oleh salah satu dosen selama beliau dan keluarganya berlibur. Pekerjaan yang sangat mudah walaupun sendirian, hanya memeriksa tempat minum di padang penggembalaan dan membukaan beberapa pagar penggembalaan apabila sapi harus dirotasi.

Kelembapan Australia yang relatif rendah membuat sapi tidak rentan terhadap penyakit walaupun digembalakan sepanjang hari diluar. Ini menggambarkan betapa mudahnya petani–petani disana memelihara sapi bahkan bisa disambi dengan pekerjaan yang lain. Mayoritas penduduk Australia di daerah pedalaman atau bahkan dipinggiran kota mempunyai lahan penggembalaan yang diisi oleh ternak, utamanya sapi.

Petani di Australia sulit terjerat oleh tengkulak dengan menjual sapi sangat murah karena kebutuhan uang mendesak semisal untuk anggota keluarga yang sakit ataupun sekolah anak. Biaya kesehatan dan sekolah disana, sampai setingkat SMA gratis, ditanggung oleh pemerintah. Mereka bebas menjual ternaknya di pasar lelang ataupun langsung dijual ke RPH, cash pastinya!

Selain petani, lingkup sistem produksi kedua adalah industri. Sebagian besar industri sapi di Australia merupakan usaha terintegrasi antara perbibitan, penggemukan, RPH dan pengemasan. Sebut saja salah satunya Australian Country Choice Ltd., perusahaan tempat saya melakukan praktek kerja lapangan.


Pemrosesan Daging Sapi di Australian Country Choice (sumber: www.accbeef.net.au)
Perusahaan ini mengelola lahan seluas total 662,5 ribu hektar yang tersebar di 54 wilayah di Quennsland. Sebagian besar lahan adalah padang penggembalaan untuk perbibitan. Perusahaan juga mempunyai 2 feedlot berkapasitas lebih dari 20 ribu ekor untuk menangkap pasar dari konsumen penggemar 'grains-finished beef' dan 1 plant processing (rumah potong dan pengemasan daging).

Kombinasi sistem produksi berbasis petani dan industri ini hasilnya luar biasa. Kebutuhan daging domestik sangat mudah dipenuhi. Kelebihan produksi memaksa mereka invansi ke pasar internasional. Diplomasi pemerintah membantu eksportir dalam proses tersebut. Salah satu pasar yang diinvansi adalah tetangganya sendiri, Indonesia.

Dalam invansi pasar daging international, saat ini Australia menghadapi tekanan dari beberapa Negara Latin seperti Brazil dan Argentina. Brazil gencar berpromosi dan berdiplomasi dalam menginvansi pasar daging sapi international. Terutama meyakinkan negara tujuan ekspor bahwa daging dari negaranya bebas penyakit dan aman dikonsumsi. Promosi dan diplomasi tersebut sudah mulai membuahkan hasil. Daging sapi dari Brazil sudah masuk ke beberapa negara-negara di Eropa dan juga China. Di Indonesia sendiri daging sapi dari Brazil tidak dapat diterima karena Indonesia menganut sistem Country based Zone untuk mengontrol penyakit dari negara importir, seperti yang sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi.

Daging impor Brazil ini memang lebih menggiurkan dari sisi harga dibanding dengan daging sapi Australia. Jatuhnya lebih murah terutama dalam rupiah. Pertama, karena upah minimum di Australia sekitar AUD$ 16/hour (Rp158.000/jam!) jauh lebih mahal dibandingkan dengan upah minimum di Brazil yang sekitar seperlimanya. Kedua, kenaikan mata uang dollar Australia yang signifikan terhadap rupiah. Dollar Australia sekarang diatas dollar Amerika! (Rp. 9.930 vs Rp. 9.680, sumber: GMC).

Berhasilnya Negara berkembang seperti Brazil dalam sistem produksi sapi membuat saya yakin Indonesia bisa mengikuti. Kelembapan tropis yang tinggi dan identik dengan mudahnya ternak terserang penyakit ternyata bukan halangan. Secara teknis bisa disiasati. Itu lah mengapa sekarang di publikasi jurnal–jurnal peternakan internasional mulai banyak diisi oleh ilmuwan–ilmuwan dari universitas–universitas di Brazil dan Argentina. Sama seperti halnya di Australia dan USA, di Brazil dan Argentina pun kemajuan sektor peternakan berbanding lurus dengan kemajuan kontribusi dari akademisinya.

Lalu dimana posisi Indonesia?

Pasar daging sapi di Indonesia sangatlah besar. Pertama, populasi penduduk yang besar sekitar 235 juta jiwa. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang terjaga dikisaran 6% dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan bertambahnya kalangan menengah ke atas secara signifikan. Kalangan ini berpotensi meningkatkan konsumsi daging. Ketiga, konsumsi daging yang sangat tinggi pada hari raya keagamaan seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Tetapi tingginya pasar domestik ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa sendiri.

Terbuai oleh mudahnya impor, menjadikan Indonesia terlena tidak membuat sistem produksi dan tataniaga sapi yang baik, terutama sistem hulu yang sangat penting, yaitu perbibitan! Tidak ada bibit, tidak ada bakalan sapi, apa yang mau digemukan? Perbibitan di dalam negeri masih bergantung kepada peternak di desa – desa dengan skala kepemilikan sedikit. Belum ada perbibitan berskala industri. Industri masih ‘wait and see’ untuk terjun ke perbibitan karena memang resikonya besar dalam hitung - hitungan bisnis. Investasinya besar dan perputaran uangnya pun lama. Lebih mudah impor daging. Cepat dan menguntungkan.

Padahal sektor penggemukan termasuk feedlot membutuhkan puluhan ribu bakalan sapi setiap 3 bulan periode penggemukan. Dengan sulitnya bakalan sapi ini, feedlot-feedlot pun memilih mengimpor sapi bakalan dari Australia untuk digemukan selama kurang lebih 3 bulan sebelum dijual dan dipotong di RPH. Untuk sektor penggemukan, Indonesia termasuk sangat berhasil. Melimpahnya sumber pakan terutama limbah industri agro sangat murah dan menguntungkan. Dengan pertumbuhan bobot badan sapi 1,2 – 1,6 kg/hari untuk Brahman Cross sudah sangat memuaskan. Tetapi tetap, masalah kedepan yang harus dicarikan jalan keluarnya adalah perbibitan.

Dengan adanya pembatasan kuota impor daging dan sapi bakalan yang diterapkan pemerintah saat ini, industri sapi harus mulai fokus melirik perbibitan. Kalau swasta masih 'wait and see', BUMN lah yang harus menjadi pelopor! Kedepan yang berhasil disektor perbibitan yang akan menjadi leader di industri ini. Persis seperti Charoen Pokphand di industri perunggasan yang saat ini menjadi leader karena yang paling menguasai perbibitan.

Kendala dan solusi perbibitan sapi

Sebetulnya begitu kompleks kendala perbibitan sapi ini, baik yang menyangkut issue teknis e.g genetik, pakan dan kontrol lingkungan. Ataupun non-teknis seperti kebijakan pemerintah. Namun ada dua poin yang ingin saya diskusikan seperti dibawah ini:

Lahan dan keamanan

Sistem intensif untuk perbibitan bukanlah pilihan yang menguntungkan. Seperti diketahui, menghasilkan anak sapi itu lama. Induk dikawinkan, bunting lalu melahirkan anak. Anak sapi ini juga harus dipelihara berbulan–bulan sampai siap digemukan. Kalau dipelihara intensif, berapa biaya pakan dan tenaga kerja yang dikeluarkan selama proses ini? Pasti tidak masuk dalam hitungan bisnis kecuali mungkin diintegrasikan dengan usaha sapi perah dimana anakan jantan nanti akan dipelihara untuk penggemukan dan penutup biaya pemeliharaan adalah hasil susu dari induk.

Yang paling murah untuk perbibitan adalah sistem penggembalaan. Membutuhkan sedikit tenaga kerja karena sapi–sapi dibiarkan cari makan sendiri dan rumputnya pun tumbuh secara alami. Tentu saja awalnya ditanami. Tetapi cara ini membutuhkan lahan yang sangat luas terutama untuk skala industri.

Walaupun lahan kosong berlimpah diluar jawa, tetapi sangat kompetitif. Pertanyaannya, apakah padang penggembalaan untuk perbibitan sapi lebih menguntungkan dari perkebunan sawit, komoditas pertanian lain atau pertambangan? Belum lagi cara mendapatkan lahan yang sulit, seperti kasus Buol. Belum lagi masalah pencurian ternak yang marak terjadi. Di Indonesia, faktor keamanan sangat penting. Ternak didalam kandang pun sering dicuri apalagi yang digembalakan diluar.

Solusi yang bisa dicoba adalah mengintegrasikan sapi dan sawit, walaupun bisa jadi rumput yang ditanam disekitar pohon sawit bisa menjadi gulma yang dapat menurunkan produksi sawit. Harus diteliti rumput apa yang cocok dan memiliki pengaruh negatif paling kecil terhadap produksi sawit. Harus dihitung juga apakah jika ada penurunan produksi sawit terkompensasi dengan untung dari perbibitan sapi. Penelitian harus mulai dilakukan untuk menjawab itu semua.

Potensi solusi kedua, mempercepat reklamasi lahan bekas galian batu bara yang sangat luas, mungkin jutaan hektar di Kalimantan dan Sumatera untuk dijadikan padang penggembalaan. Penelitian harus mulai difokuskan pada bagaimana mempercepat proses reklamasi dan rumput apa yang paling cocok pada kondisi lahan tersebut. Solusi ini memungkinkan! Di Inggris, lahan bekas tambang batu bara dimasa lalu, sekarang menjadi padang penggembalaan. Kalau solusi ini berhasil, mungkin nanti taipan–taipan tambang batu bara yang masuk orang-orang terkaya versi majalah forbes sekarang adalah pengusaha sapi dimasa yang akan datang.

Perbaikan tata niaga termasuk revitalisasi jagal

Sudah menjadi rahasia umum bagi orang peternakan bahwa bisnis sapi potong ini keras. Kalau tidak hati – hati mudah ditipu. Macetnya pembayaran uang setelah sapi dipotong di jagal-jagal menjadi masalah klasik yang sering menghampiri peternak. Makanya sebagian besar perusahaan feedlot mewajibkan pembeli membayar cash terlebih dahulu sebelum sapi–sapi dapat dikeluarkan, diangkut dan dipotong di jagal.

Tetapi sebagian besar peternak tidak mempunyai posisi tawar yang tinggi seperti perusahaan feedlot, terutama mereka yang membutuhkan uang segera karena ada anggota keluarga sakit atau anak masuk sekolah. Kalau ada sapi peternak sakit roboh, pasti ditaksir murah bahkan setengah dari harga seharusnya. Karena kerugian inilah banyak peternak yang akhirnya tidak bergairah lagi untuk berternak. Sudah melihara ternak susah, nyari rumput susah, pas dijual tekor, uangnya nyangkut pula. Lengkaplah penderitaan.

Kalau peternak sudah tidak bergairah lagi, bagaimana mau meningkatkan populasi sapi dan swasembada daging?

Potensi solusi yang harus dilakukan adalah memperbaiki kondisi dan manajemen jagal–jagal. Jagal ini adalah ujung tombak tataniaga sapi. Mayoritas jagal dimiliki oleh pemerintah lewat dinas – dinas terkait didaerah. Sayangnya, kebanyakan jagal dikelola dengan manajemen gaya ‘instansi’ pemerintah yang konvensional dan ala kadarnya. Ah, yang penting ada setoran restribusi. Mungkin seperti itu pemikirannya.

Sebagai ujung tombak tata niaga, kondisi jagal perlu diperbaiki. Tidak ada salahnya dinas menjalankan manajemen modern ber ISO dengan quality kontrol yang baik. Tempat bersih hygienis, infrastruktur lengkap, staf–staf yang ramah dan melayani. Kualitas potongan karkas baik dan terkontrol sehingga tidak merugikan peternak maupun pembeli karkas. Perputaran uang ditata sehingga bisa menjadi 'wasit' yang fair bagi pemilik sapi dan pembeli karkas. Pembeli karkas bisa diminta menyimpan sejumlah uang deposit untuk memastikan mereka membayar penuh kepada peternak pemilik sapi.

Terobosan–terobosan lain juga diperlukan untuk memastikan tataniaga sapi ini fair dan saling menguntungkan.

sumber :  http://www.pulangkandang.com/2013/03/menuju-swasembada-daging-sapi.html

Jenis Sapi Unggul Di Seluruh Dunia

Penjelasan Singkat Tentang Sapi

Sapi adalah binatang yang termasuk ke dalam ras hewan Bovinae. Biasa dipanggil lembu. Banyak orang memelihara sapi untuk diambil susu nya(diperah) dan diambil dagingnya sebagai makanan sehari - hari. Disamping itu sapi juga sangat bermanfaat bagi manusia karena dapat dijinakkan dan mudah untuk diarahkan, walaupun nenek moyang nya merupakan hewan yang liar. Hingga saat ini banyak masyarakat kita yang menggunakan sapi sebagai penggerak dan alat transportasi. Para petani menggunakan sapi sebagai penggerak alat untuk membajak sawah dan itu sangat memudahkan petani. Sapi juga lekat sebagai mata pencaharian masyarakat. Di zaman dahulu, selain kuda, sapi sangat berguna sebagai alat transportasi antar desa. Namun, sapi juga merupakan hewan yang disakralkan, beberapa suku di Indonesia mempercayai sapi sebagai hewan yang suci dan sakral. Mereka menggunakannya dalam berbagai acara perayaan dan ritual tahunan.

jenis sapi di dunia | ternak sapi | usahaternak
Persilangan jenis sapi di dunia menciptakan banyak varian unggul

Sekarang, sapi adalah salah satu komoditas paling unggul di beberapa negara termasuk Indonesia. Banyaknya jenis sapi yang tersebar di berbagai belahan dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Apalagi setiap tahunnya umat muslim merayakan hari raya qurban, mau tidak mau hal ini juga berpengaruh terhadap naiknya pamor sapi pedaging sebagai hewan yang dapat digunakan sebagai bisnis. Namun, walaupun tidak di hari raya qurban pun, sapi sudah seperti kebutuhan sehari - hari dan banyak orang menginvestasikan uangnya untuk memelihara dan beternak sapi unggul.

Sebelum masuk lebih dalam untuk bisnis dan ternak sapi, ada baiknya kita pelajari terlebih dahulu mengenai jenis jenis sapi yang ada di dunia

Jenis Sapi di Dunia

Bila dikelompokkan berdasarkan pemeliharaan dan pembesarannya. Jenis sapi di dunia dapat digolongkan ke dalam tiga kategori. yaitu :
  • Sapi Potong / Pedaging
  • Sapi Perah
  • Sapi Pekerja
Dari tiga kategori tersebut yang paling banyak prosentase nya di Indonesia adalah jenis jenis pedaging dan perah. Untuk tipe pekerja jarang digunakan karena di zaman modern ini fungsi sapi sebagai pekerja telah digantikan oleh mesin. Oke, langsung saja kita bahas satu persatu apa saja sapi - sapi yang ada di dunia :

Jenis Sapi Potong & Pedaging

jenis sapi potong | ternak sapi | usahaternak
Sapi potong impor masih susah untuk dikalahkan
Sapi Ongole
Sapi ini merupakan sapi impor yang berasal dari negara India dan sudah banyak dikembangbiakkan di berbagai negara termasuk Indonesia. Sapi ini memiliki pertumbuhan yang tergolong lambat, karena mencapai dewasa lebih dari tiga tahun. Bobot ongole jantan mencapai 600kg sedangkan yang betina sekitar 300kg. Ciri utama sapi ini adalah gelambir yang ada di lehernya. Sapi ongole hanya termasuk dalam kelompok sapi berukuran sedang. Kebanyakan berwarna putih dan hitam.

Sapi Brahman
Sama seperti sapi Ongole, sapi brahman adalah salah satu dari berbagai jenis sapi dari India. Sapi Ongole bisa dibilang adalah turunan dari keluarga sapi brahman yang termasuk famili Indicus. Terlihat dari ciri yang sama yaitu memiliki punuk besar dan gelambir di leher. Sapi brahman termasuk sapi yang mempunyai daya tahan sangat baik, dalam berbagai pergantian cuaca ekstrim dan kekeringan, sapi ini masih dapat bertahan. Sapi ini mampu mencapai berat dan ukuran lebih besar dari ongole, yaitu dapat mencapai berat 1 ton atau 1000 kg. Dan brahman betina rata - rata mencapai berat 500 kg atau setengah ton. Dalam segi warna sapi brahman berbeda dengan ongole, kebanyakan brahman berwarna coklat, merah, abu abu dan hitam. Banyak tersebar dan diternak sebagai jenis sapi pedaging.

Sapi Angus
Sapi angus adalah sapi yang berasal dari Eropa, tepatnya dari daerah Inggris. Namun negara kita mengimpor sapi ini dari Selandia Baru. Ciri utama sapi angus adalah tubuhnya yang besar hitam dan kekar berisi namun tidak bertanduk. Sapi pedaging angus jantan mampu mencapai berat hampir 1100 kilogram. Sedangkan angus betina dewasa memiliki berat hingga 700 kilogram. Terkenal karena mutu dan kualitas dagingnya yang baik. Tidak banyak lemak di satu bagian.

Sapi Brangus
Anda pasti sudah paham apa arti brangus. Ya, brangus adalah persilangan antara sapi angus dan brahman dari India. bentuk tubuh dan warna sama dengan sapi angus, tetapi berbeda dengan angus, sapi brangus memiliki tanduk kecil di kepalanya. Tujuan persilangan ini adalah untuk menciptakan genetik angus yang memiliki daya tahan lebih baik dan tidak rewel dengan pakan. Dan juga tetap memiliki kualitas daging yang sangat baik sesuai warisan genetik sapi angus dari Inggris.

Sapi Shorthorn
Merupakan sapi yang berasal dari Inggris, bentuk tubuh berbeda sekali dengan angus dan ongole, terkesan lebih seimbang dengan punggung yang lurus dan tidak terlalu kekar. Nama shorthorn menandakan tanduknya yang pendek, namun beberapa jenis sapi shorthorn ada yang tidak bertanduk. Bulu sapi shorthorn bercorak bintik bintik kecil berwarna putih dan merah. Walaupun terkesan tidak kekar, namun sapi ini memiliki bobot setara dengan sapi angus yaitu mencapai 1100 kg.

Sapi Hereford
Sapi ini menambah panjang daftar jenis sapi dari negara Inggris. Sapi hereford terlihat unik dikarenakan corak warna di tubuh dan di kepala berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri. Pada bagian muka depan hingga perut berwarna putih dan badan samping hingga kaki berwarna coklat. Bentuk badan yang kekar dan panjang menunjukkan ciri sapi dari Eropa. Berat tubuh sapi ini mencapai 900 kilogram untuk penjantan, dan betina dapat mencapai 750kg.

Sapi Murray Grey
Sapi yang dikembangkan di Australia, tepatnya di Lembah Murray. Persilangan antara sapi Angus dan sapi shorthorn dari Inggris. Proporsi tubuhnya sama persis dengan sapi angus namun memiliki bulu berwarna abu - abu seperti domba dan tidak bertanduk. Berat rata - rata yang mampu dicapai adalah 1200 kg untuk murray grey jantan, dan betina sekitar 700 kg.

Sapi Beefmaster
Adalah sapi yang pertama kali dikembangkan di AS, hasil persilangan antara sapi brahman jantan dengan sapi betina shorthorn ataupun hereford dari Inggris. Sapi ini bertubuh besar khas sapi Eropa dipadu dengan ketahanan tubuh yang baik terhadap lingkungan dan cuaca. Bulunya berwarna coklat kemerahan bercampur dengan putih kecil dan terdapat punuk pula seperti sapi brahman.

Sapi Droughmaster
Sapi ini sangat terkenal sebagai komoditas ekspor negara Australia. Berasal dari persilangan antara Sapi shorthorn jantan dari inggris dan brahman betina dari India. Sehingga terbentuklah sapi dengan kualitas daging yang sangat baik. Di Indonesia sapi ini juga banyak dikembangkan sebagai sapi unggulan. Ciri khas nya adalah warna coklat kemerahan merata di seluruh tubuhnya. Berat mencapai 950kg untuk jantan dan 725 untuk betina.

Sapi Santa Gertrudis
Sapi ini adalah kebalikan dari persilangan sapi droughmaster, yaitu antara sapi shorthorn jantan dan brahman sebagai betina. Mulai diperkenalkan di Amerika Serikat, tepatnya di Texas. Sekilas sapi ini sangat mirip dengan sapi droughmaster dari Australia karena warna bulu nya yang coklat kemerahan merata. Namun genetik dari brahman kebanyakan lebih dominan membuat sapi ini memiliki daya tahan yang sangat baik jika dibandingkan dengan sapi pedaging dari Eropa. Bobot sapi santa getrudis sama dengan droughmaster.

Sapi Simmental (Sapi Metal)
Sapi simmental adalah sapi yang berasal dari eropa, tepatnya dari Switzerland, merupakan tipe sapi yang serbaguna. Pada awal abad ke 19 sapi ini dikembangbiakkan untuk diambil susu nya, dijadikan pekerja dan juga sebagai pedaging. Walaupun terlihat garang dan kekar, namun sapi simmental adalah sapi yang paling jinak dan mudah untuk diarahkan. Warna identik dengan coklat di tubuh dan samping leher. Sedangkan warna depan kepala dan bulu di telapak kaki adalah putih. Berat yang dapat dicapai sapi metal jantan adalah 1200kg dan betina sekitar 800kg.

Sapi Limmousine
Adalah sapi yang terkenal dengan prosentase besar dagingnya dan banyak dikenal sebagai sapi pedaging terbaik. Berasal dari Perancis, sapi ini memiliki tingkat pertambahan daging paling tinggi diantara sapi potong lainnya. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, sapi ini dapat mencapai bobot 800 - 900 kg. Dan menjelang tahun ketiga, sapi ini dapat mencapai bobot hampir 1,5 ton untuk pejantan. Ciri sapi limousine adalah bertanduk kecil lengkung, tubuhnya besar tebal dan bulunya yang merah rata. Warna bulu di sekitar telapak kaki sedikit putih namun tidak setebal sapi simmental.

Sapi Charolais
Sapi ini cukup terkenal di kalangan peternak sapi karena dikenal dengan posturnya yang tinggi besar dengan bulu warna perak terang kecoklatan dan tanduknya yang panjang. Dikenal pula sebagai sapi pedaging terbesar di dunia dengan tinggi melebihi 3 meter yang pernah tercatat. Berasal dari Perancis, dan akhirnya juga dikembang biakkan di AS. Berat jantan dapat melebihi 1,5 ton dan betina mencapai 950 kg. Kecepatan pertambahan dagingnya juga secepat sapi limousine yang juga berasal dari Perancis.

Sapi Charbray
Setelah dikembangkannya sapi Charolais di Amerika Serikat, muncullah jenis sapi baru yaitu charbray hasil peranakan dari charolais dengan sapi brahman dari India. Ciri tubuh sapi ini adalah bulu berwarna krem namun terdapat punuk dan tanduk kecil. Berbeda dengan charolais asli yang memiliki tanduk panjang. Bobotnya juga menyamai sapi charolais yaitu mencapai 1,4 ton untuk charbray jantan, dan betina 900 kilogram.

Sapi Peranakan Ongole (PO)
Merupakan varian sapi berkulit putih yang paling banyak dikembang biakkan di pulau Jawa. Berasal dari persilangan antara sapi ongole dari Sumba dengan sapi domestik jawa. Ini terlihat dari punuk dan gelambirnya, namun tidak sebesar ongole asli. Kebanyakan peternak memelihara sapi PO karena harganya yang cukup terjangkau namun memiliki kombinasi antara daya tahan ongole dan tenaga khas sapi lokal sehingga dapat digunakan sebagai pekerja disamping diambil dagingnya. Selain itu sapi ini juga cepat pulih setelah masa reproduksi.

Sapi Aceh
Adalah salah satu sapi pedaging lokal unggul. Hasil persilangan antara sapi lokal dengan sapi ongole. Untuk jenis sapi lokal, sapi aceh tergolong memiliki bobot yang berat. Untuk jantan mencapai 450 kg dan betina 275 kg. Baik sekali untuk sapi potong. Warna merah kecoklatan mewakili warna sapi lokal dengan punuk kecil khas ongole.

Jenis Sapi Perah

jenis sapi perah | ternak sapi | usahaternak
Persilangan sapi perah lokal meningkatkan produksi susu nasional 
Sapi Frisian Holstein (FH)
Populer disebut sapi holstein, merupakan sapi yang paling baik sebagai sapi perah. Berasal dari daerah Frisland, Holland. Namun banyak pula ditemukan di daerah Selandia Baru dan Australia. Ciri khas yang paling terlihat dari sapi ini adalah warna hitam putih yang ada di tubuh dan kepalanya. Walaupun tidak dapat tumbuh sebesar sapi potong Eropa, namun untuk ukuran sapi perah, dagingnya juga dapat diandalkan. Bobot FH dewasa hanya dapat mencapai 800 kilogram. Di Indonesia produksi susu sapi holstein sangat tidak maksimal, berbeda dengan di negara asalnya Belanda. Sehingga para peternak banyak yang beralih ke sapi Grati.

Sapi Grati
Sapi grati adalah jenis sapi perah hasil persilangan antara sapi FH dengan sapi lokal, diantaranya sapi jawa, sapi PO dan sapi madura. Sapi ini banyak dikembangkan karena kurang maksimalnya produksi susu sapi FH. Sapi ini hanya dapat diandalkan sebagai sapi perah karena produksi susu nya lebih tinggi dari FH namun karena perawakan yang lebih kecil dari FH, membuat sapi ini kurang tepat jika digunakan sebagai sapi potong. Warna hampir sama dengan sapi FH namun tidak secerah FH.

Sapi Jersey
Berasal dari Pulau Jersey, Inggris, sapi ini tergolong kecil diantara sapi Eropa lainnya. Bobot rata - rata sapi jersey jantan hanya 650 kg. Bandingkan dengan sapi angus yang beratnya dua kali lipatnya. Walaupun banyak diternak sebagai sapi perah di Inggris karena produksi susu nya yang sangat tinggi, di negara kita hampir tidak ada peternak yang mengembang biakkan sapi jersey ini. Ciri nya adalah bulunya yang berwarna coklat bercampur putih tipis.

Sapi Guernsey
Juga merupakan sapi perah yang berasal dari Inggris Selatan. Lebih jinak dan lebih kokoh daripada sapi jersey. Berat dewasa guernsey jantan mencapai 700kg dan betina berkisar antara 400 - 500 kg. Ciri umumnya yaitu bulu berwarna coklat kekuningan bercampur hitam dan putih. Tanduknya mengarah ke atas.

Sapi Guermey
Hampir sama dengan sapi guernsey dan juga berasal dari negara Inggris. Warna kekuningan sama dengan guernsey dan belang putih ada di kepala, pergelangan kaki dan bagian samping perut dengan tanduk menghadap ke depan. Berat dan bentuk tubuh menyerupai guernsey.

Sapi Ayrshire
Adalah sapi perah impor dari Eropa, tepatnya dari Skotlandia. Proporsi tubuh lebih kokoh dan lebih besar sedikit dibandingkan sapi jersey dan sapi guernsey. Bobot ayrshire jantan dapat mencapai 800kg dan sang betina 550kg. Perbedaan warna dengan jersey dan guernsey adalah bulunya yang cenderung merah dengan campuran putih. Tanduknya juga lurus dengan kepala dan mengarah ke atas.

Sapi Brown Swiss
Masa laktasi dan produksi susu nya tergolong yang tertinggi. Lebih kokoh daripada sapi perah impor dari Inggris, karena tulangan yang lebih besar. Berat jantan mampu mencapai 850 kilogram dan brown swiss betina sekitar 600 kilogram. Karakteristiknya yang tenang membuatnya mudah untuk dipelihara, dan memiliki daya tahan luar biasa khas sapi pedaging. Warna khas nya adalah warna bulu coklat sedikit abu - abu dengan warna hitam di ujung kepala, kaki dan bagian ekornya. Sapi brown swiss juga dapat digunakan sebagai sapi potong karena ukuran tubuhnya yang tergolong besar dan memenuhi standar.

Sapi Sahiwal
Sapi ini adalah sapi impor dari India yang produksi susu nya cukup tinggi diantara jenis sapi perah India lainnya. Bulunya berwarna coklat kemerahan dan bercampur dengan warna putih. Jika dibandingkan dengan sapi perah eropa, ciri sapi India sangat kentara dengan adanya ambing/gelambir yang besar di leher. Juga kaki nya yang cenderung tidak panjang dibandingkan dengan panjang tubuhnya. Namun kelihatan lebih sedikit berotot di bagian dada. Beratnya tergolong sedang, yaitu jantan berkisar 500 - 550 kilogram dan betina 350 kilogram.

Sapi Red Shindi
Berasal dari India. Sapi jenis ini terbiasa hidup di habitat yang gersang dan bersuhu udara tinggi. Dibandingkan dengan sahiwal, tubuhnya sedikit lebih kecil dan pertumbuhannya tidak secepat sahiwal. Warna bulu hampir sama dengan sahiwal dengan bentuk tubuh yang sama pula. Perbedaannya hanya pada produksi susu yang lebih kecil daripada sapi sahiwal. Beratnya juga berkisar antara 500 kilogram untuk pejantan, dan betinanya adalah 300 kg.

Sapi Australian Milking Zebu (AMZ)
Sama seperti namanya, sapi ini adalah sapi perah impor dari Australia hasil peranakan sapi jersey dengan sapi India sahiwal/red shindi. Persilangan ini menghasilkan sapi yang tahan penyakit dan suhu panas dibarengi produksi susu yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sapi sahiwal dan sapi jersey sendiri. Warna bulunya coklat sawo matang bercampur putih tak berpunuk.

Jenis Sapi Pekerja

jenis sapi pekerja | ternak sapi | usahaternak
Sapi bali merupakan jenis sapi pekerja terbaik di dunia
Sapi Bali
Sapi bali adalah cerminan sapi pekerja yang sesungguhnya. Kuat, otot yang besar dan mengandung sedikit lemak. Kulitnya tebal dan daya tahan luar biasa. Mengandung keturunan dari sapi liar atau banteng. Ciri utama adalah warna kecoklatan merah bata untuk sapi bali muda, setelah dewasa warna akan lebih gelap hingga menjadi coklat kehitaman. Sapi bali merupakan produk asli Indonesia. Selain sebagai penarik bajak pada ladang pertanian, biasanya juga digunakan sebagai sapi pedaging karena tubuhnya yang besar dan berisi.

Sapi Madura
Sapi madura adalah hasil peranakan dari sapi bali dengan jenis sapi impor ongole dan sapi lokal jawa. Oleh karenanya sapi madura memiliki warna bulu coklat khas sapi bali dan berpunuk sedang seperti sapi ongole untuk si jantan. Tubuhnya relatif kecil dengan berat hanya kisaran 250 sampai 300 kilogram. Walaupun terglong kecil, tenaga nya sangat besar sehingga banyak digunakan sebagai sapi pacuan / karapan sapi khas madura. Kurang cocok digunakan sebagai sapi potong dikarenakan terlalu kecil prosentase dagingnya.

Demikian tadi artikel terlengkap kami mengenai jenis - jenis sapi dan berbagai macam sapi yang ada di dunia. Beberapa sapi impor di atas adalah jenis sapi ternak yang banyak dikembangkan juga di Indonesia. Baik itu melalui perkawinan alami maupun kawin suntik demi terciptanya sapi dengan kualitas unggul. Meskipun masyarakat kita sekarang banyak meminati sapi berbadan besar seperti limousin untuk sapi pedaging, namun sapi lokal juga tidak sepi peminat. Banyak masyarakat pedesaan yang mengembang biakkan sapi bali dan sapi madura karena harganya yang relatif murah dengan kualitas yang baik. Kami memohon maaf tidak dapat menampilkan gambar masing masingnya. Akan kami tampilkan pada postingan selanjutnya. Semoga artikel kami mengenai jenis sapi unggulan ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan sahabat sekalian.

sumber : http://www.usahaternak.com/2014/03/jenis-sapi-unggul-di-seluruh-dunia.html

PENGURUS KELOMPOK





No KTA           : KTT.04022015.01. 001
Nama                :  ASEP ARIEF
Jabatan             : KETUA
ALAMAT         : .Dsn.Nyalindung Rt09/02 Desa.padanaan
Tanggal lahir    : Sumedang 24-04-1958
No KTP            : 3211082404580003


No KTA         : KTT-.04022015.01. 002
Nama            :  EKO KASENDA
Jabatan         : SEKRETARIS
ALAMAT       : .Dsn.Sidaraja Rt.30/07 Desa.padanaan
Tanggal lahir : Bandung 06-06-1981
No KTP           : 3211080606820001


No KTA         : KTT.04022015.01. 003
Nama            :  SAMSUDIN
Jabatan         : BENDAHARA
ALAMAT       : .Dsn.nYALINDUNG Rt.13/03 Desa.padanaan
Tanggal lahir :Sumedang 15-05-1979
No KTP           : 3211081505790009


No KTA         : KTT.04022015.01. 004
Nama            :  EMEN,S.Pd.
Jabatan         : SEKRETARIS
ALAMAT       : .Dsn.Bugel  Rt.01/02 Desa.Bugel
Tanggal lahir : Sumedang 06-08-1963
No KTP           : 3211240608630004
No KTA         : KTT.04022015.01. 005
Nama            :  EDI YUHANA
Jabatan         : SEKRETARIS
ALAMAT       : .Dsn.Canukur  Rt.04/01 Desa.Sukaluyu
Tanggal lahir : Sumedang 26-06-1962
No KTP           : 3211190206620003
No KTA         : KTT.04022015.02. 006
Nama            :  CECEH SUHARYA
Jabatan         : KORDINATOR WILAYAH
ALAMAT       : .Dsn.Canukur  Rt.03/01 Desa.Sukaluyu
Tanggal lahir : Sumedang 19-09-1964
No KTP           : 3211191909640002
No KTA         : KTT.04022015.02. 007
Nama              :  ENDANG WITRSA
Jabatan            : KORDINATOR WILAYAH
ALAMAT       : .Dsn.Warung Buah  Rt.03/01 Desa.Padanaan
Tanggal lahir : Sumedang 19-09-1959
No KTP           : 3211081909590006